JAKARTA – Dana asing diperkirakan masih cukup deras masuk ke emerging market termasuk Indonesia. Dana asing tersebut masuk ke saham, surat utang negara (SUN) dan SBI.

“Dana asing yang masuk ke Indonesia membuat rupiah gagah perkasa dengan proyeksi menembus level psikologis Rp9.000. Tetapi sifatnya sangat temporer,” ujar Managing Director Chief Asia Pacific Economist and Head of Asia Pacific Economic and Market Analysis at Citigroup Johanna Chua, di acara The 10th Annual Citi Indonesia Economic & Politik Outlook. Indonesia 2010: How We Stay Ahead?, di Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Kamis (18/3/2010).

Lebih lanjut dia mengatakan, rupiah yang berada di level Rp9.000 per USD bersifat temporari karena dana sekira USD1,1 miliar sudah masuk ke Indonesia pada minggu pertama tahun ini. Sehingga dibutuhkan kewaspadaan bila dana asing tersebut keluar.

“Para investor harus mewaspadai akan ada market shock ketika sebagian dana tersebut kembali terbang keluar karena tidak banyak berita positif yang memasuki ke pasar lagi,” katanya.

Data ekonomi yang tidak baik tersebut antara lain dikarenakan buruknya data ekonomi AS seperti retail sales dan jobless claim. Angka retail sales pada Desember turun 0,3 persen di bawah ekspektasi serta data pengangguran Amerika pada Desember 2009 ternyata meningkat.

Emerging market termasuk Indonesia masih menjadi tempat menarik bagi investor. Hal ini dikarenakan alternatif lain tidak ada dan return investasi di Indonesia masih menarik bagi investor.

“Investor melihat Indonesia memiliki prospek bagus di mana pertumbuhan ekonomi didukung oleh sektor konsumer ditambah kebijakan fiskal oleh pemerintah sangat bagus,” tuturnya.

Seperti diketahui rasio utang terhadap GDP sangat rendah sekira 32 persen. Diprediksikan rasio utang terhadap GDP sekira 30 persen pada 2010.